| 1 |
2026-05-16 |
Kerendahan Hati Untuk Terus Belajar |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 16 Mei 2026. Kerendahan Hati Untuk Terus Belajar (Kisah Para Rasul 18:23-28). 18:23 Setelah beberapa hari lamanya ia tinggal di situ, ia berangkat pula, lalu menjelajahi seluruh tanah Galatia dan Frigia untuk meneguhkan hati semua murid. 18:24 Sementara itu datanglah ke Efesus seorang Yahudi bernama Apolos, yang berasal dari Aleksandria. Ia seorang yang fasih berbicara dan sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci. 18:25 Ia telah menerima pengajaran dalam Jalan Tuhan. Dengan bersemangat ia berbicara dan dengan teliti ia mengajar tentang Yesus, tetapi ia hanya mengetahui baptisan Yohanes. 18:26 Ia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat. Tetapi setelah Priskila dan Akwila mendengarnya, mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah. 18:27 Karena Apolos ingin menyeberang ke Akhaya, saudara-saudara di Efesus mengirim surat kepada murid-murid di situ, supaya mereka menyambut dia. Setibanya di Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya. 18:28 Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 18:23–28: |
Kerendahan Hati untuk Terus Belajar. Apolos digambarkan sebagai orang yang fasih berbicara, mahir dalam Kitab Suci, dan penuh semangat dalam mewartakan Tuhan. Namun ternyata pemahamannya belum lengkap, karena ia hanya mengetahui baptisan Yohanes. Menariknya, ketika Priskila dan Akwila menjelaskan kepadanya Jalan Allah dengan lebih teliti, Apolos tidak menolak atau merasa dirinya sudah paling tahu. Ia mau belajar dan menerima koreksi. Dari sinilah pelayanannya menjadi semakin berguna bagi banyak orang. Perikop ini mengajarkan bahwa dalam hidup iman, semangat saja tidak cukup kita juga membutuhkan kerendahan hati untuk terus dibentuk Tuhan. Kadang seseorang sudah lama aktif di Gereja atau merasa memahami iman, lalu sulit menerima masukan. Padahal hati yang mau belajar adalah tanda kedewasaan rohani. Tuhan dapat memakai siapa saja untuk menolong kita bertumbuh, bahkan melalui orang yang sederhana dan tidak terkenal. |
Pertumbuhan Gereja Terjadi Ketika Setiap Orang Mau Ambil Bagian Sesuai Perannya. Dalam perikop ini, bukan hanya Paulus yang bekerja mewartakan Injil. Ada Priskila dan Akwila yang mendampingi Apolos secara pribadi, ada saudara-saudara di Efesus yang memberi dukungan dan surat pengantar, dan ada Apolos sendiri yang kemudian melayani dengan sungguh-sungguh. Semua mengambil bagian dengan cara yang berbeda, tetapi semuanya dipakai Tuhan untuk membangun Gereja. Ini menunjukkan bahwa karya Tuhan bukan hasil satu orang hebat, melainkan buah kerja sama banyak orang yang setia pada panggilannya masing-masing. Dalam kehidupan sehari-hari pun demikian. Tidak semua dipanggil menjadi pewarta besar, tetapi setiap orang bisa ambil bagian dalam karya Tuhan: ada yang mengajar, mendoakan, mendengarkan, mendukung, atau menguatkan sesama. Gereja bertumbuh bukan hanya melalui mimbar dan khotbah, tetapi juga melalui kesetiaan kecil yang dilakukan dengan kasih setiap hari. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 2 |
2026-05-17 |
Masa Penantian Dapat Menjadi Masa Pertumbuhan Iman |
Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 17 Mei 2026. Masaa Penantian Dapat Menjadi Masa Pertumbuhan Iman (Kisah Para Rasul 1:12-14). 1:12 Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem. 1:13 Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. 1:14 Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama 1 , dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 1:12–14: |
Masa Penantian Dapat Menjadi Masa Pertumbuhan Iman. Setelah Yesus naik ke surga, para rasul kembali ke Yerusalem dan berkumpul di ruang atas. Mereka belum tahu secara penuh bagaimana masa depan mereka akan berjalan, tetapi mereka memilih tetap tinggal bersama dan bertekun dalam doa. Ini menunjukkan bahwa penantian bukan waktu yang sia-sia, melainkan kesempatan untuk mempersiapkan hati. Sebelum Roh Kudus dicurahkan, para murid terlebih dahulu belajar berharap dan bertahan dalam doa. Dalam hidup sehari-hari, kita juga sering berada dalam masa “menunggu”: menunggu jawaban doa, pekerjaan, kesembuhan, atau jalan keluar dari persoalan. Kadang penantian membuat hati gelisah dan ingin menyerah. Namun bacaan ini mengajarkan bahwa Tuhan sering bekerja diam-diam justru dalam masa penantian itu. Di saat kita merasa belum melihat apa-apa, Tuhan sedang membentuk hati kita menjadi lebih kuat dan lebih siap menerima rencana-Nya. |
Persatuan dalam Doa Membuka Ruang bagi Karya Roh Kudus. Dikatakan bahwa para rasul “bertekun dengan sehati dalam doa” bersama Maria dan murid-murid lainnya. Mereka datang dengan latar belakang dan karakter yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh harapan yang sama akan Tuhan. Menarik bahwa sebelum Gereja bertumbuh dan melakukan banyak karya besar, mereka terlebih dahulu belajar hidup dalam kesatuan doa. Perikop ini mengingatkan bahwa kekuatan Gereja bukan pertama-tama terletak pada banyaknya kegiatan, tetapi pada hati yang bersatu di hadapan Tuhan. Dalam kehidupan keluarga pun demikian. Keluarga yang mau berdoa bersama perlahan belajar saling memahami dan mengampuni. Komunitas yang berdoa bersama akan lebih kuat menghadapi konflik dan tantangan. Sebab ketika manusia bersatu dalam doa, Tuhan bekerja menumbuhkan damai, kesabaran, dan kasih di tengah mereka. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 3 |
2026-05-18 |
Kepenuhan Iman |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 18 Mei 2026. Kepenuhan Iman (Kisah Pra Rasul 19:1-8). 19:1 Ketika Apolos masih di Korintus, c Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. d Di situ didapatinya beberapa orang murid . 19:2 Katanya kepada mereka: Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya? Akan tetapi mereka menjawab dia: Belum, bahkan kami belum pernah mendengar 3 , bahwa ada Roh Kudus. 19:3 Lalu kata Paulus kepada mereka: Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis? Jawab mereka: Dengan baptisan Yohanes. 19:4 Kata Paulus: Baptisan Yohanes f adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus. g 19:5 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis 4 dalam nama Tuhan Yesus. h 19:6 Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, i turunlah Roh Kudus ke atas mereka 5 , j dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh k dan bernubuat. 19:7 Jumlah mereka adalah kira-kira dua belas orang. 19:8 Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat l di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 19:1–8: |
Kepenuhan Iman. Ketika Paulus bertemu beberapa murid di Efesus, ia bertanya: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus ketika kamu menjadi percaya?” Pertanyaan itu membuka kenyataan bahwa mereka belum sungguh mengenal kepenuhan iman akan Yesus dan karya Roh Kudus. Mereka sudah memiliki niat baik dan semangat untuk bertobat, tetapi perjalanan iman mereka masih perlu dilengkapi. Perikop ini mengajarkan bahwa hidup rohani tidak boleh berhenti hanya pada kebiasaan atau pengetahuan dasar tentang Tuhan. Banyak orang sudah lama beriman, tetapi sebenarnya belum sungguh mengenal kedalaman kasih dan kuasa Tuhan dalam hidupnya. Ada yang rajin mengikuti kegiatan rohani, tetapi masih hidup dalam ketakutan, mudah putus asa, atau sulit mengampuni. Roh Kudus hadir bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dialami dan membaharui hati kita setiap hari. Karena itu, kita perlu terus membuka diri untuk dibentuk dan dipimpin Tuhan, agar iman kita semakin hidup dan matang. |
Roh Kudus Memberi Keberanian untuk Menjadi Saksi Tuhan. Setelah Paulus menumpangkan tangan atas mereka, Roh Kudus turun dan mereka mulai berbicara serta bernubuat. Sesudah itu Paulus sendiri dengan berani mewartakan Kerajaan Allah di rumah ibadat. Ini menunjukkan bahwa kehadiran Roh Kudus selalu mendorong seseorang keluar dari ketakutan menuju keberanian untuk bersaksi. Roh Kudus tidak membuat orang sibuk pada dirinya sendiri, tetapi menggerakkan hati untuk membawa Tuhan kepada sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun membutuhkan keberanian seperti ini. Tidak mudah mempertahankan iman di tengah lingkungan yang kadang mengejek nilai-nilai kebaikan dan kejujuran. Tidak mudah tetap menjadi pribadi yang benar ketika banyak orang memilih jalan yang lebih mudah tetapi tidak jujur. Namun Roh Kudus memberi kekuatan kepada orang-orang sederhana untuk tetap hidup benar, tetap berharap, dan tetap menjadi terang di tengah dunia. Sering kali kesaksian terbesar bukanlah kata-kata yang hebat, melainkan keberanian untuk tetap setia kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 4 |
2026-05-19 |
Kasih Seorang Gembala |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 19 Mei 2026. Kasih Seorang Gembala (Kisah Para Rasul 20:17-27). 20:17 Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus. 20:18 Sesudah mereka datang, berkatalah ia kepada mereka: Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: 20:19 dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. 20:20 Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu 20:21 aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus. 20:22 Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ 20:23 selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. 20:24 Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. 20:25 Dan sekarang aku tahu, bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah. 20:26 Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu, bahwa aku bersih, tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa. 20:27 Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 20:17–27: |
Kasih Seorang Gembala Selalu Disertai Pengorbanan. Dalam perpisahannya dengan para penatua di Efesus, Paulus berbicara dengan hati yang sangat terbuka. Ia mengingat kembali bagaimana ia melayani Tuhan dengan rendah hati, air mata, dan ketekunan di tengah berbagai pencobaan. Paulus tidak melihat pelayanan sebagai jalan mencari kehormatan, melainkan sebagai panggilan untuk menyerahkan diri demi keselamatan orang lain. Bahkan ia berkata bahwa hidupnya tidak berharga baginya, asalkan ia dapat menyelesaikan tugas yang diberikan Tuhan. Sikap ini menunjukkan bahwa cinta sejati kepada Tuhan selalu menuntut keberanian untuk berkorban. Dunia sekarang sering mengajarkan orang untuk mencari kenyamanan, keuntungan pribadi, dan pengakuan. Namun Injil justru memperlihatkan bahwa hidup menjadi bermakna ketika dipakai untuk melayani. Dalam keluarga, Gereja, maupun pekerjaan, sering kasih diuji bukan lewat kata-kata manis, tetapi lewat kesediaan untuk tetap sabar, tetap setia, dan tetap berbuat baik meski lelah atau tidak dihargai. Paulus mengingatkan kita bahwa pelayanan yang lahir dari kasih akan selalu meninggalkan jejak kehidupan bagi banyak orang. Orang yang sungguh mencintai Tuhan tidak akan hidup hanya untuk dirinya sendiri, tetapi rela menjadi berkat bagi sesama. |
Kesetiaan pada Kebenaran Lebih Penting daripada Menyenangkan Semua Orang. Paulus mengatakan bahwa ia tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepada mereka. Ia tidak memilih hanya ajaran yang mudah diterima atau menyenangkan hati pendengarnya, tetapi menyampaikan kebenaran dengan jujur dan penuh tanggung jawab. Di sinilah terlihat keberanian seorang pewarta Injil sejati. Kadang kebenaran memang tidak nyaman untuk didengar, karena menuntut pertobatan dan perubahan hidup. Dalam kehidupan sehari-hari, godaan terbesar sering kali adalah menyesuaikan diri dengan arus supaya diterima semua orang. Banyak orang akhirnya takut berkata benar karena khawatir ditolak, kehilangan relasi, atau dianggap berbeda. Namun Paulus menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan harus lebih besar daripada keinginan untuk menyenangkan manusia. Tentu kebenaran harus disampaikan dengan kasih dan kebijaksanaan, tetapi tidak boleh dikaburkan demi kenyamanan. Sikap jujur, adil, dan setia pada nilai-nilai iman memang kadang membuat seseorang berjalan sendirian, tetapi justru di situlah kesaksian iman menjadi nyata. Tuhan membutuhkan pribadi-pribadi yang berani hidup benar di tengah dunia yang sering membingungkan arah hidup manusia. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 5 |
2026-05-20 |
Penjaga Jiwa |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 20 Mei 2026. Penjaga Jiwa (Kisah Para Rasul 20:28-38). 20:28 Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri. 20:29 Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. 20:30 Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka. 20:31 Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata. 20:32 Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya. 20:33 Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga. 20:34 Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. 20:35 Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima. 20:36 Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua. 20:37 Maka menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia. 20:38 Mereka sangat berdukacita, terlebih-lebih karena ia katakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Lalu mereka mengantar dia ke kapal. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 20:28–38: |
Menjadi Penjaga Jiwa, Bukan Sekadar Menjalankan Tugas. Dalam nasihat terakhirnya kepada para penatua di Efesus, Paulus berkata: “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan.” Kata-kata ini menunjukkan bahwa pelayanan kepada umat bukan hanya soal pekerjaan lahiriah, melainkan tanggung jawab menjaga kehidupan iman orang lain. Paulus sadar bahwa setelah kepergiannya akan datang berbagai tantangan yang dapat menggoyahkan iman umat. Karena itu, seorang pelayan Tuhan harus terlebih dahulu menjaga hidup rohaninya sendiri sebelum membimbing orang lain. Perikop ini mengingatkan kita bahwa setiap orang, dalam caranya masing-masing, sebenarnya dipanggil menjadi penjaga bagi sesama. Orang tua menjaga pertumbuhan hati anak-anaknya, pemimpin menjaga kejujuran dan keadilan, sahabat menjaga sahabatnya agar tidak jatuh dalam jalan yang salah. Namun kita tidak akan mampu menjaga orang lain jika hati kita sendiri jauh dari Tuhan. Dunia sering membuat orang sibuk mengurus banyak hal, tetapi lupa menjaga batin dan relasi dengan Tuhan. Akibatnya, hidup menjadi mudah lelah, mudah marah, dan kehilangan arah. Paulus mengajak kita untuk kembali sadar bahwa jiwa manusia jauh lebih berharga daripada segala kesibukan duniawi. Ketika hati dekat dengan Tuhan, kita pun dapat menjadi sumber kekuatan dan pengharapan bagi orang lain. |
Warisan Terbesar Orang Beriman Adalah Keteladanan Hidup. Menjelang perpisahan, Paulus mengingatkan bahwa ia tidak pernah mencari keuntungan pribadi. Ia bekerja dengan tangannya sendiri untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan membantu orang lain. Lalu ia menegaskan perkataan yang sangat indah: “Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Paulus tidak meninggalkan harta atau kedudukan, tetapi meninggalkan teladan hidup yang penuh kasih, kerja keras, dan pengorbanan. Pada akhirnya, itulah warisan yang paling dikenang orang. Banyak orang mungkin lupa kata-kata yang pernah kita ucapkan, tetapi mereka akan mengingat cara kita memperlakukan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari, dunia sering mengukur keberhasilan dari kekayaan, jabatan, atau popularitas. Namun di hadapan Tuhan, nilai hidup seseorang terlihat dari seberapa besar kasih yang ia bagikan kepada sesama. Orang yang murah hati, tulus membantu, dan rela berkorban mungkin tidak selalu dipuji dunia, tetapi hidupnya menjadi terang yang menguatkan banyak orang. Paulus menunjukkan bahwa iman sejati bukan hanya tentang berbicara mengenai Tuhan, tetapi tentang menghadirkan kasih Tuhan secara nyata dalam tindakan sehari-hari. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 6 |
2026-05-21 |
Harapan akan Kebangkitan |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 21 Mei 2026. Harapan Akan Kebangkitan (Kisah Para Rasul 22:30-23:11) 22:30 Namun kepala pasukan itu ingin mengetahui dengan teliti apa yang dituduhkan orang-orang Yahudi kepada Paulus. Karena itu pada keesokan harinya ia menyuruh mengambil Paulus dari penjara dan memerintahkan, supaya imam-imam kepala dan seluruh Mahkamah Agama berkumpul. Lalu ia membawa Paulus dari markas dan menghadapkannya kepada mereka. 23:1 Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata: Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah. 23:2 Tetapi Imam Besar Ananias menyuruh orang-orang yang berdiri dekat Paulus menampar mulut Paulus. 23:3 Membalas itu Paulus berkata kepadanya: Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih-putih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar hukum Taurat oleh perintahmu untuk menampar aku. 23:4 Dan orang-orang yang hadir di situ berkata: Engkau mengejek Imam Besar Allah? 23:5 Jawab Paulus: Hai saudara-saudara, aku tidak tahu, bahwa ia adalah Imam Besar. Memang ada tertulis: Janganlah engkau berkata jahat tentang seorang pemimpin bangsamu! 23:6 Dan karena ia tahu, bahwa sebagian dari mereka itu termasuk golongan orang Saduki dan sebagian termasuk golongan orang Farisi, ia berseru dalam Mahkamah Agama itu, katanya: Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati. 23:7 Ketika ia berkata demikian, timbullah perpecahan antara orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki dan terbagi-bagilah orang banyak itu. 23:8 Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya. 23:9 Maka terjadilah keributan besar. Beberapa ahli Taurat dari golongan Farisi tampil ke depan dan membantah dengan keras, katanya: Kami sama sekali tidak menemukan sesuatu yang salah pada orang ini! Barangkali ada roh atau malaikat yang telah berbicara kepadanya. 23:10 Maka terjadilah perpecahan besar, sehingga kepala pasukan takut, kalau-kalau mereka akan mengoyak-ngoyak Paulus. Karena itu ia memerintahkan pasukan untuk turun ke bawah dan mengambil Paulus dari tengah-tengah mereka dan membawanya ke markas. 23:11 Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 22:30 23:6–11: |
Harapan akan Kebangkitan Memberi Kekuatan di Tengah Penderitaan. Ketika Paulus berdiri di hadapan Mahkamah Agama, ia menyadari bahwa dirinya diadili karena iman akan kebangkitan orang mati. Di tengah ancaman, tuduhan, dan kebencian yang diarahkan kepadanya, Paulus tetap teguh karena ia memiliki harapan yang lebih besar daripada ketakutan akan penderitaan. Ia percaya bahwa hidup manusia tidak berakhir pada kesulitan dunia ini, melainkan menuju kehidupan bersama Tuhan. Harapan akan kebangkitan inilah yang membuat Paulus tidak menyerah. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang mudah kehilangan semangat ketika menghadapi kegagalan, sakit, penolakan, atau masalah yang terasa tidak kunjung selesai. Dunia sering membuat orang berpikir bahwa penderitaan adalah akhir dari segalanya. Namun iman Kristiani mengajarkan bahwa selalu ada kehidupan baru bersama Tuhan. Kebangkitan Kristus menjadi jaminan bahwa kegelapan tidak pernah menjadi kata terakhir. Orang yang memiliki harapan kepada Tuhan akan mampu bertahan bahkan di tengah situasi yang sulit. Ia mungkin menangis, lelah, dan terluka, tetapi tidak kehilangan arah hidup. Harapan rohani memberi kekuatan untuk terus melangkah ketika manusia merasa tidak sanggup lagi berjalan sendirian. |
Tuhan Tidak Pernah Meninggalkan Orang yang Setia kepada-Nya. Setelah mengalami pertentangan dan ancaman besar, Paulus menerima penghiburan dari Tuhan sendiri. Tuhan datang dan berkata kepadanya: “Kuatkan hatimu!” Kata-kata ini sangat sederhana, tetapi memiliki kekuatan yang besar. Tuhan tahu ketakutan, kelelahan, dan pergumulan yang dialami Paulus. Ia tidak membiarkan Paulus menghadapi semuanya sendirian. Perikop ini mengingatkan kita bahwa dalam masa-masa paling berat sekalipun, Tuhan tetap hadir mendampingi umat-Nya. Kadang kehadiran Tuhan tidak selalu menghilangkan masalah secara langsung, tetapi memberi kekuatan agar kita mampu bertahan melewati semuanya. Banyak orang pernah mengalami saat di mana hidup terasa sepi, doa terasa hening, dan jalan keluar belum terlihat. Namun justru dalam saat-saat seperti itu, Tuhan sering bekerja diam-diam menguatkan hati manusia. Kesetiaan kepada Tuhan memang tidak selalu membuat hidup menjadi mudah, tetapi selalu membuat kita tidak pernah berjalan sendirian. Tuhan mampu memakai bahkan penderitaan dan penolakan untuk membawa seseorang semakin dekat kepada-Nya dan semakin kuat dalam iman. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 7 |
2026-05-22 |
Kebenaran Tuhan |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Jumat, 22 Mei 2026. Kebenaran Tuhan (Kisah Para Rasul 25:13-21). 25:13 Beberapa hari kemudian datanglah raja Agripa dengan Bernike ke Kaisarea untuk mengadakan kunjungan kehormatan kepada Festus. 25:14 Karena mereka beberapa hari lamanya tinggal di situ, Festus memaparkan perkara Paulus kepada raja itu, katanya: Di sini ada seorang tahanan yang ditinggalkan Feliks pada waktu ia pergi. 25:15 Ketika aku berada di Yerusalem, imam-imam kepala dan tua-tua orang Yahudi mengajukan dakwaan terhadap orang itu z dan meminta supaya ia dihukum. 25:16 Aku menjawab mereka, bahwa bukanlah kebiasaan pada orang-orang Roma untuk menyerahkan seorang terdakwa sebagai suatu anugerah sebelum ia dihadapkan dengan orang-orang yang menuduhnya dan diberi kesempatan untuk membela diri terhadap tuduhan itu. 25:17 Karena itu mereka turut bersama-sama dengan aku ke mari. Pada keesokan harinya aku segera mengadakan sidang pengadilan dan menyuruh menghadapkan orang itu. 25:18 Tetapi ketika para pendakwa berdiri di sekelilingnya, mereka tidak mengajukan suatu tuduhanpun tentang perbuatan jahat seperti yang telah aku duga. 25:19 Tetapi mereka hanya berselisih paham dengan dia tentang soal-soal agama mereka, dan tentang seorang bernama Yesus, yang sudah mati, sedangkan Paulus katakan dengan pasti, bahwa Ia hidup. 25:20 Karena aku ragu-ragu bagaimana aku harus memeriksa perkara-perkara seperti itu, aku menanyakan apakah ia mau pergi ke Yerusalem, supaya perkaranya dihakimi di situ. 25:21 Tetapi Paulus naik banding. Ia minta, supaya ia tinggal dalam tahanan dan menunggu, sampai perkaranya diputuskan oleh Kaisar. Karena itu aku menyuruh menahan dia sampai aku dapat mengirim dia kepada Kaisar. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 25:13–21: |
Kebenaran Tuhan Sering Sulit Dimengerti oleh Dunia. Festus merasa bingung menghadapi perkara Paulus, karena persoalan yang diperdebatkan bukan soal politik atau kejahatan biasa, melainkan tentang Yesus yang telah wafat tetapi diyakini Paulus hidup kembali. Perikop ini menunjukkan bahwa iman kepada Kristus memang tidak selalu dapat dipahami dengan cara pikir dunia. Banyak orang hanya melihat iman sebagai sesuatu yang tidak penting atau sekadar tradisi. Namun bagi orang percaya, Yesus yang bangkit adalah sumber hidup dan harapan. Karena itu, kita dipanggil untuk tetap teguh meski iman kita kadang tidak dimengerti oleh lingkungan sekitar. Tidak sedikit orang merasa malu menunjukkan imannya karena takut dianggap berbeda atau kuno. Padahal justru melalui kesetiaan sederhana itulah terang Tuhan dapat hadir di tengah dunia. Iman yang sejati bukan hanya soal pengetahuan, tetapi keberanian untuk tetap percaya bahwa Tuhan hidup dan bekerja dalam kehidupan kita. |
Kesetiaan kepada Tuhan Membutuhkan Keberanian. Paulus tetap bertahan pada imannya walaupun harus menghadapi pengadilan dan penolakan. Ia tidak mundur demi mencari aman. Sikap ini mengajarkan bahwa mengikuti Tuhan kadang menuntut keberanian untuk tetap benar di tengah tekanan. Dalam kehidupan sehari-hari, keberanian itu dapat terlihat dalam hal-hal sederhana: tetap jujur, tetap berbuat baik, dan tetap setia pada nilai iman meski tidak selalu didukung orang lain. Sering kali godaan terbesar bukan datang dari ancaman besar, tetapi dari keinginan untuk diterima semua orang. Paulus mengajarkan bahwa orang beriman harus lebih mengutamakan kesetiaan kepada Tuhan daripada kenyamanan diri sendiri. Tuhan tidak meminta kita menjadi sempurna, tetapi setia berjalan bersama-Nya setiap hari. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 8 |
2026-05-23 |
Karya Tuhan Tak Terhalangi |
Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 23 Mei 2026. Karya Tuhan Tak Terhalangi (Kisah Para Rasul Kis 28:16-20.30-31). 28:16 Setelah kami tiba di Roma, Paulus diperbolehkan tinggal dalam rumah sendiri bersama-sama seorang prajurit yang mengawalnya. 28:17 Tiga hari kemudian Paulus memanggil orang-orang terkemuka bangsa Yahudi dan setelah mereka berkumpul, Paulus berkata: Saudara-saudara, meskipun aku tidak berbuat kesalahan terhadap bangsa kita atau terhadap adat istiadat nenek moyang kita, namun aku ditangkap di Yerusalem dan diserahkan kepada orang-orang Roma. 28:18 Setelah aku diperiksa, mereka bermaksud melepaskan aku, karena tidak terdapat suatu kesalahanpun padaku yang setimpal dengan hukuman mati. 28:19 Akan tetapi orang-orang Yahudi menentangnya dan karena itu terpaksalah aku naik banding kepada Kaisar, tetapi bukan dengan maksud untuk mengadukan bangsaku. 28:20 Itulah sebabnya aku meminta, supaya aku melihat kamu dan berbicara dengan kamu, sebab justru karena pengharapan Israellah aku diikat dengan belenggu ini. 28:30 Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu ia menerima semua orang yang datang kepadanya. 28:31 Dengan terus terang dan tanpa rintangan apa-apa ia memberitakan Kerajaan Allah dan mengajar tentang Tuhan Yesus Kristus. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 28:16–20.30–31: |
Keterbatasan Tidak Dapat Menghalangi Karya Tuhan. Paulus tiba di Roma sebagai seorang tahanan, hidup dalam penjagaan dan keterbatasan. Namun keadaan itu tidak membuatnya berhenti mewartakan Injil. Justru dari tempat tinggal sederhananya, Paulus terus menerima banyak orang dan berbicara tentang Kerajaan Allah dengan penuh keberanian. Perikop ini menunjukkan bahwa karya Tuhan tidak bergantung pada situasi yang ideal. Manusia sering berpikir bahwa ia baru dapat berbuat baik jika semua keadaan mendukung, ketika masalah selesai, atau ketika hidup terasa nyaman. Tetapi Paulus mengajarkan bahwa Tuhan tetap dapat bekerja bahkan di tengah penderitaan, kelemahan, dan keterbatasan hidup manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin ada orang yang merasa terlalu lemah, terlalu gagal, atau terlalu banyak masalah untuk menjadi alat Tuhan. Namun Tuhan tidak menunggu hidup kita sempurna untuk berkarya melalui kita. Justru sering kali melalui kelemahan dan perjuangan hidup, kasih Tuhan semakin nyata dirasakan oleh orang lain. |
Pewartaan Injil Membutuhkan Ketekunan dan Hati yang Terbuka. Walaupun mengalami penolakan dan banyak penderitaan dalam perjalanannya, Paulus tetap setia memberitakan Injil “dengan terus terang dan tanpa hambatan.” Ia tidak membiarkan luka, kekecewaan, atau kesulitan membuat hatinya tertutup. Paulus sadar bahwa tugas seorang murid Tuhan adalah terus menaburkan kebaikan dan kebenaran, sekalipun hasilnya tidak selalu langsung terlihat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering merasa lelah ketika kebaikan tidak dihargai, nasihat tidak didengarkan, atau usaha kita seolah sia-sia. Namun Tuhan menghendaki kita untuk tetap setia melakukan yang baik. Kesaksian iman yang sederhana tetapi dilakukan terus-menerus sering kali jauh lebih kuat daripada kata-kata yang besar. Tuhan bekerja melalui hati yang tekun, sabar, dan tidak menyerah dalam mencintai sesama. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 9 |
2026-05-24 |
Pentakosta |
Selamat pagi, selamat hari Minggu, selamat Pesta Pentakosta dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 24 Mei 2026. Pentakosta (Kisah Para Rasul 2:1-11) 2:1 Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. 2:2 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk 2:3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. 2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. 2:5 Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. 2:6 Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. 2:7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? 2:8 Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: 2:9 kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, 2:10 Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, 2:11 baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 2:1–11: |
Pentakosta Adalah Perayaan Kehadiran Roh Kudus yang Membaharui Hidup Manusia. Pada hari Pentakosta, para murid yang sebelumnya hidup dalam ketakutan tiba-tiba dipenuhi Roh Kudus. Mereka menerima keberanian baru, hati yang baru, dan semangat baru untuk mewartakan karya Tuhan. Roh Kudus turun bukan hanya sebagai tanda ajaib, tetapi sebagai bukti bahwa Tuhan tidak meninggalkan Gereja-Nya berjalan sendirian. Hari raya Pentakosta mengingatkan kita bahwa kehidupan Kristiani tidak dapat dijalani hanya dengan kekuatan manusia. Tanpa Roh Kudus, iman mudah menjadi dingin, doa menjadi kebiasaan kosong, dan hati mudah dikuasai rasa takut atau putus asa. Namun Roh Kudus mampu mengubah hati yang lemah menjadi kuat, hati yang tertutup menjadi penuh kasih, dan hati yang bingung menjadi penuh pengharapan. Inilah sebabnya Pentakosta sering disebut sebagai hari kelahiran Gereja, karena sejak saat itu para murid mulai keluar untuk mewartakan Injil kepada dunia. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering mengalami keadaan seperti para murid sebelum Pentakosta: takut menghadapi masa depan, kecewa dengan keadaan hidup, atau merasa tidak mampu menjalani tanggung jawab yang berat. Banyak orang tampak kuat di luar, tetapi sebenarnya lelah dan kosong di dalam hati. Roh Kudus hadir untuk menghidupkan kembali semangat yang mulai padam. Ia bekerja secara lembut tetapi nyata: memberi damai ketika hati gelisah, memberi kekuatan ketika hidup terasa berat, dan memberi harapan ketika manusia hampir menyerah. Karena itu, Hari Raya Pentakosta bukan hanya peringatan peristiwa masa lalu, tetapi undangan untuk membuka hati agar Roh Kudus terus berkarya dalam hidup kita hari ini. |
Roh Kudus Mempersatukan Perbedaan dan Mengutus Gereja Menjadi Saksi bagi Semua Bangsa. Dalam peristiwa Pentakosta, orang-orang dari berbagai bangsa dan bahasa mendengar para rasul berbicara dalam bahasa mereka masing-masing. Ini menunjukkan bahwa Roh Kudus datang bukan untuk memecah, melainkan untuk mempersatukan. Tuhan ingin Injil menjadi kabar sukacita bagi semua orang tanpa membedakan suku, bahasa, budaya, atau latar belakang. Pentakosta menjadi tanda bahwa Gereja dipanggil menjadi rumah bagi semua bangsa. Roh Kudus mengajarkan bahwa persatuan sejati tidak lahir karena semua orang sama, tetapi karena semua dipersatukan dalam kasih Tuhan. Dunia saat ini sering dipenuhi perpecahan: perbedaan pendapat mudah berubah menjadi kebencian, perbedaan pilihan membuat orang saling menjauh, bahkan dalam keluarga pun sering muncul luka karena sulit memahami satu sama lain. Roh Kudus mengajarkan jalan yang berbeda. Ia mengubah hati manusia agar mampu mendengar, memahami, dan mengasihi sesama. Orang yang dipenuhi Roh Kudus tidak akan sibuk meninggikan diri sendiri, tetapi menjadi pembawa damai dan persatuan. Selain itu, Pentakosta juga mengingatkan bahwa setiap orang beriman dipanggil menjadi saksi Tuhan. Menjadi saksi tidak selalu berarti berkhotbah di depan banyak orang, tetapi menghadirkan kasih Tuhan lewat sikap hidup sehari-hari: membawa damai di tengah pertengkaran, memberi harapan kepada yang putus asa, serta tetap hidup jujur dan penuh kasih di tengah dunia yang sering kehilangan arah. Dengan demikian, Roh Kudus terus bekerja melalui hidup orang-orang sederhana yang mau membuka hati bagi Tuhan. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |
| 10 |
2026-05-25 |
Tuhan Mencari Manusia Karena Kasih |
Senin Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 25 Mei 2026. Pesta Maria Bunda Gereja. Tuhan Mencari Manusia Karena Kasih (Kejadian 3:9-15,20). 3:9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: Di manakah engkau? 3:10 Ia menjawab: Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang sebab itu aku bersembunyi. 3:11 Firman-Nya: Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu? 3:12 Manusia itu menjawab: Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan. 3:13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: Apakah yang telah kauperbuat ini? Jawab perempuan itu: Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan. 3:14 Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. 3:15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya. 3:20 Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup. |
Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kejadian 3:9–15.20 (Pesta Maria Bunda Gereja): |
Tuhan Tetap Mencari Manusia yang Jatuh dalam Dosa. Setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, hal pertama yang dilakukan Tuhan bukanlah menghukum, melainkan mencari manusia: “Di manakah engkau?” Pertanyaan ini menunjukkan bahwa kasih Tuhan selalu lebih dahulu hadir bahkan ketika manusia menjauh dari-Nya. Dosa memang membuat manusia takut, bersembunyi, saling menyalahkan, dan kehilangan damai. Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan ular. Namun di tengah kehancuran relasi itu, Tuhan tidak meninggalkan manusia sendirian. Perikop ini memperlihatkan bahwa hati Tuhan selalu mencari, memanggil, dan membuka jalan pemulihan bagi manusia yang jatuh. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang merasa tidak pantas datang kepada Tuhan karena kesalahan, kegagalan, atau masa lalu yang buruk. Ada yang memilih menjauh dari doa, Gereja, atau kehidupan rohani karena merasa malu dan tidak layak. Tetapi bacaan ini mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah berhenti mencari anak-anak-Nya. Bahkan ketika manusia lari dari Tuhan, Tuhan tetap berjalan mendekat. Dalam terang pesta Maria Bunda Gereja, kita melihat bahwa Maria pun menjadi tanda kasih keibuan Tuhan yang terus merangkul manusia berdosa agar kembali kepada-Nya. Gereja dipanggil meneladan hati seorang ibu: bukan menghakimi terlebih dahulu, melainkan mencari, merangkul, dan menuntun orang kembali kepada kasih Tuhan. |
Dari Luka Dosa, Tuhan Menumbuhkan Harapan Keselamatan. Setelah kejatuhan manusia, situasi tampak gelap akibat dosa. Namun justru di tengah keadaan itu Tuhan menyampaikan janji keselamatan: keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular. Gereja melihat nubuat ini sebagai awal harapan akan kemenangan Kristus atas dosa dan kuasa kejahatan, serta Maria yang mengambil bagian dalam karya keselamatan itu. Artinya, dosa dan kegagalan manusia bukanlah akhir dari cerita. Tuhan mampu menghadirkan harapan bahkan dari luka terdalam manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, sering seseorang merasa hidupnya sudah terlalu rusak karena kesalahan masa lalu, relasi yang hancur, atau dosa yang terus berulang. Ada pula keluarga yang kehilangan damai, mengalami pertengkaran, atau merasa jauh dari Tuhan. Namun bacaan ini mengajarkan bahwa Tuhan sanggup menumbuhkan keselamatan justru dari situasi yang tampaknya paling gelap. Maria sebagai Bunda Gereja menjadi tanda bahwa Tuhan tetap mendampingi perjalanan umat-Nya dengan kasih seorang ibu yang tidak meninggalkan anak-anaknya dalam penderitaan. Melalui Gereja, Tuhan terus menawarkan pengharapan, pengampunan, dan kesempatan untuk memulai hidup yang baru. |
Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). |
Lihat Detail |