Masa Penantian Dapat Menjadi Masa Pertumbuhan Iman
...

Masa Penantian Dapat Menjadi Masa Pertumbuhan Iman

Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 17 Mei 2026. Masaa Penantian Dapat Menjadi Masa Pertumbuhan Iman (Kisah Para Rasul 1:12-14). 1:12 Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem. 1:13 Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. 1:14 Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama 1 , dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 1:12–14:

Pertama : Masa Penantian Dapat Menjadi Masa Pertumbuhan Iman. Setelah Yesus naik ke surga, para rasul kembali ke Yerusalem dan berkumpul di ruang atas. Mereka belum tahu secara penuh bagaimana masa depan mereka akan berjalan, tetapi mereka memilih tetap tinggal bersama dan bertekun dalam doa. Ini menunjukkan bahwa penantian bukan waktu yang sia-sia, melainkan kesempatan untuk mempersiapkan hati. Sebelum Roh Kudus dicurahkan, para murid terlebih dahulu belajar berharap dan bertahan dalam doa. Dalam hidup sehari-hari, kita juga sering berada dalam masa “menunggu”: menunggu jawaban doa, pekerjaan, kesembuhan, atau jalan keluar dari persoalan. Kadang penantian membuat hati gelisah dan ingin menyerah. Namun bacaan ini mengajarkan bahwa Tuhan sering bekerja diam-diam justru dalam masa penantian itu. Di saat kita merasa belum melihat apa-apa, Tuhan sedang membentuk hati kita menjadi lebih kuat dan lebih siap menerima rencana-Nya.



Kedua : Persatuan dalam Doa Membuka Ruang bagi Karya Roh Kudus. Dikatakan bahwa para rasul “bertekun dengan sehati dalam doa” bersama Maria dan murid-murid lainnya. Mereka datang dengan latar belakang dan karakter yang berbeda, tetapi dipersatukan oleh harapan yang sama akan Tuhan. Menarik bahwa sebelum Gereja bertumbuh dan melakukan banyak karya besar, mereka terlebih dahulu belajar hidup dalam kesatuan doa. Perikop ini mengingatkan bahwa kekuatan Gereja bukan pertama-tama terletak pada banyaknya kegiatan, tetapi pada hati yang bersatu di hadapan Tuhan. Dalam kehidupan keluarga pun demikian. Keluarga yang mau berdoa bersama perlahan belajar saling memahami dan mengampuni. Komunitas yang berdoa bersama akan lebih kuat menghadapi konflik dan tantangan. Sebab ketika manusia bersatu dalam doa, Tuhan bekerja menumbuhkan damai, kesabaran, dan kasih di tengah mereka.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda