Kepenuhan Iman
...

Kepenuhan Iman

Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 18 Mei 2026. Kepenuhan Iman (Kisah Pra Rasul 19:1-8). 19:1 Ketika Apolos masih di Korintus, c Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. d Di situ didapatinya beberapa orang murid . 19:2 Katanya kepada mereka: Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya? Akan tetapi mereka menjawab dia: Belum, bahkan kami belum pernah mendengar 3 , bahwa ada Roh Kudus. 19:3 Lalu kata Paulus kepada mereka: Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis? Jawab mereka: Dengan baptisan Yohanes. 19:4 Kata Paulus: Baptisan Yohanes f adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus. g 19:5 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis 4 dalam nama Tuhan Yesus. h 19:6 Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, i turunlah Roh Kudus ke atas mereka 5 , j dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh k dan bernubuat. 19:7 Jumlah mereka adalah kira-kira dua belas orang. 19:8 Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat l di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah.

Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 19:1–8:

Pertama : Kepenuhan Iman. Ketika Paulus bertemu beberapa murid di Efesus, ia bertanya: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus ketika kamu menjadi percaya?” Pertanyaan itu membuka kenyataan bahwa mereka belum sungguh mengenal kepenuhan iman akan Yesus dan karya Roh Kudus. Mereka sudah memiliki niat baik dan semangat untuk bertobat, tetapi perjalanan iman mereka masih perlu dilengkapi. Perikop ini mengajarkan bahwa hidup rohani tidak boleh berhenti hanya pada kebiasaan atau pengetahuan dasar tentang Tuhan. Banyak orang sudah lama beriman, tetapi sebenarnya belum sungguh mengenal kedalaman kasih dan kuasa Tuhan dalam hidupnya. Ada yang rajin mengikuti kegiatan rohani, tetapi masih hidup dalam ketakutan, mudah putus asa, atau sulit mengampuni. Roh Kudus hadir bukan hanya untuk diketahui, tetapi untuk dialami dan membaharui hati kita setiap hari. Karena itu, kita perlu terus membuka diri untuk dibentuk dan dipimpin Tuhan, agar iman kita semakin hidup dan matang.



Kedua : Roh Kudus Memberi Keberanian untuk Menjadi Saksi Tuhan. Setelah Paulus menumpangkan tangan atas mereka, Roh Kudus turun dan mereka mulai berbicara serta bernubuat. Sesudah itu Paulus sendiri dengan berani mewartakan Kerajaan Allah di rumah ibadat. Ini menunjukkan bahwa kehadiran Roh Kudus selalu mendorong seseorang keluar dari ketakutan menuju keberanian untuk bersaksi. Roh Kudus tidak membuat orang sibuk pada dirinya sendiri, tetapi menggerakkan hati untuk membawa Tuhan kepada sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun membutuhkan keberanian seperti ini. Tidak mudah mempertahankan iman di tengah lingkungan yang kadang mengejek nilai-nilai kebaikan dan kejujuran. Tidak mudah tetap menjadi pribadi yang benar ketika banyak orang memilih jalan yang lebih mudah tetapi tidak jujur. Namun Roh Kudus memberi kekuatan kepada orang-orang sederhana untuk tetap hidup benar, tetap berharap, dan tetap menjadi terang di tengah dunia. Sering kali kesaksian terbesar bukanlah kata-kata yang hebat, melainkan keberanian untuk tetap setia kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).

Kembali ke Beranda