Halaman Sarifirman

Bacaan Sarifirman

Kembali ke Beranda

No Tanggal Judul Salam dan Teks Kitab Suci Renungan Pertama Kedua Berkat Aksi
1 2026-05-06 Ketegangan dalam Iman Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 6 Mei 2026. Ketegangan dalam Iman (Kisah Para Rasul 15:1-6). 15:1 Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan. 15:2 Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu. 15:3 Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di situ. 15:4 Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka. 15:5 Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa. 15:6 Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 15:1–6: Ketegangan dalam Iman sebagai Jalan Menuju Kebenaran yang Lebih Dalam. Perikop ini memperlihatkan sebuah perdebatan serius dalam Gereja perdana: apakah orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan mengikuti hukum Musa untuk diselamatkan? Ini bukan persoalan kecil, tetapi menyangkut inti iman: keselamatan itu berasal dari mana? Dari hukum atau dari rahmat Allah dalam Kristus? Yang menarik, para rasul dan jemaat tidak menghindari perdebatan ini. Paulus dan Barnabas berdebat dengan tegas, lalu persoalan itu dibawa ke Yerusalem untuk didiskusikan bersama para rasul dan penatua. Ini menunjukkan bahwa dalam hidup menggereja, perbedaan pandangan bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru melalui dialog yang jujur dan pencarian bersama, Gereja semakin memahami kehendak Tuhan. Perikop ini mengajak kita untuk tidak cepat menghakimi ketika ada perbedaan dalam komunitas. Yang penting bukan siapa yang paling benar menurut diri sendiri, tetapi bagaimana bersama-sama mencari kebenaran dalam terang Roh Kudus. Iman adalah Anugerah yang Membebaskan. Di balik perdebatan ini, tersembunyi satu pertanyaan besar: apakah mengikuti Tuhan berarti menambah beban aturan, atau justru mengalami kebebasan? Ada kelompok yang ingin menambahkan syarat-syarat hukum lama sebagai jalan keselamatan. Namun perjalanan Gereja kemudian menegaskan bahwa keselamatan adalah anugerah, bukan hasil usaha manusia semata. Perikop ini menjadi titik awal kesadaran bahwa iman Kristen bukan sekadar ketaatan pada aturan lahiriah, tetapi relasi hidup dengan Kristus yang menyelamatkan. Dalam hidup sehari-hari, kita juga bisa jatuh pada sikap yang sama: mengukur iman dari banyaknya aturan yang kita jalankan, tetapi kehilangan sukacita dan kebebasan sebagai anak-anak Allah. Sabda hari ini mengajak kita untuk memurnikan iman kita: bukan hidup dalam ketakutan akan aturan, tetapi dalam kepercayaan akan kasih Tuhan yang membebaskan. Dari situlah ketaatan yang sejati lahir—bukan karena terpaksa, tetapi karena cinta. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
2 2026-05-07 Roh Kudus Menuntun Gereja Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 7 Mei 2026. Roh Kudus Menuntun Gereja (Kisah Para Rasul 15:7-21). 15:7 Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. 15:8 Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, 15:9 dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. 15:10 Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? 15:11 Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga. 15:12 Maka diamlah seluruh umat itu, lalu mereka mendengarkan Paulus dan Barnabas menceriterakan segala tanda dan mujizat yang dilakukan Allah dengan perantaraan mereka di tengah-tengah bangsa-bangsa lain. 15:13 Setelah Paulus dan Barnabas selesai berbicara, berkatalah Yakobus: Hai saudara-saudara, dengarkanlah aku: 15:14 Simon telah menceriterakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi nama-Nya. 15:15 Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis: 15:16 Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, 15:17 supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, 15:18 yang telah diketahui dari sejak semula. 15:19 Sebab itu aku berpendapat, bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa lain yang berbalik kepada Allah, 15:20 tetapi kita harus menulis surat kepada mereka, supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhala-berhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah. 15:21 Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 15:7–21: Roh Kudus Menuntun Gereja Melampaui Batas. Dalam perdebatan yang cukup tajam, Petrus berdiri dan memberi kesaksian bahwa Allah sendiri telah memilih bangsa-bangsa lain untuk mendengar Injil dan menerima Roh Kudus—tanpa terlebih dahulu menjadi Yahudi. Allah tidak membeda-bedakan, dan Ia memurnikan hati mereka oleh iman. Ini adalah sebuah pernyataan yang sangat mendalam: keselamatan bukan milik satu kelompok saja, tetapi terbuka bagi semua. Roh Kudus bekerja melampaui batas-batas budaya, tradisi, dan kebiasaan lama. Perikop ini mengajak kita untuk melihat bahwa kadang-kadang kita pun bisa membatasi karya Tuhan dengan cara berpikir kita yang sempit. Kita merasa Tuhan “lebih dekat” dengan kelompok kita, cara kita, atau kebiasaan kita. Padahal Tuhan jauh lebih besar dari itu. Iman yang dewasa adalah iman yang terbuka—yang mau melihat bahwa Roh Kudus bisa bekerja juga dalam cara-cara yang tidak selalu kita duga atau kita kenal. Kebijaksanaan Iman: Mencari Jalan Tengah Demi Kebaikan Bersama. Yakobus kemudian mengambil sikap yang bijaksana. Ia tidak menolak karya Allah di antara bangsa-bangsa lain, tetapi juga mempertimbangkan situasi konkret komunitas yang beragam. Maka diusulkan beberapa hal praktis: menjauh dari berhala, dari percabulan, dan dari hal-hal yang dapat menimbulkan sandungan. Ini bukan kembali ke hukum lama secara kaku, tetapi sebuah jalan tengah yang menjaga kesatuan dan kebaikan bersama. Di sini kita melihat bahwa hidup beriman bukan hanya soal prinsip yang benar, tetapi juga kebijaksanaan dalam menerapkannya. Kadang kita tahu apa yang benar, tetapi cara menyampaikannya atau menjalankannya bisa melukai orang lain. Perikop ini mengajak kita untuk memiliki hati yang peka: bagaimana hidup benar sekaligus membangun, bagaimana menjaga iman tanpa memecah persaudaraan. Dalam kebijaksanaan seperti inilah Gereja tetap satu, walaupun terdiri dari banyak perbedaan. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
3 2026-05-08 Keputusan yang Lahir dari Roh Kudus Membawa Sukacita Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Jumat, 8 Mei 2026. Keputusan yang Lahir dari Roh Kudus Membawa Sukacita (Kisah Para Rasul 15:22-31). 15:22 Maka rasul-rasul dan penatua-penatua beserta seluruh jemaat itu mengambil keputusan untuk memilih dari antara mereka beberapa orang yang akan diutus ke Antiokhia bersama-sama dengan Paulus dan Barnabas, yaitu Yudas yang disebut Barsabas dan Silas. Keduanya adalah orang terpandang di antara saudara-saudara itu. 15:23 Kepada mereka diserahkan surat yang bunyinya: Salam dari rasul-rasul dan penatua-penatua, dari saudara-saudaramu kepada saudara-saudara di Antiokhia, Siria dan Kilikia yang berasal dari bangsa-bangsa lain. 15:24 Kami telah mendengar, bahwa ada beberapa orang di antara kami, yang tiada mendapat pesan dari kami, telah menggelisahkan dan menggoyangkan hatimu dengan ajaran mereka. 15:25 Sebab itu dengan bulat hati kami telah memutuskan untuk memilih dan mengutus beberapa orang kepada kamu bersama-sama dengan Barnabas dan Paulus yang kami kasihi, 15:26 yaitu dua orang yang telah mempertaruhkan nyawanya karena nama Tuhan kita Yesus Kristus. 15:27 Maka kami telah mengutus Yudas dan Silas, yang dengan lisan akan menyampaikan pesan yang tertulis ini juga kepada kamu. 15:28 Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban dari pada yang perlu ini: 15:29 kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat. 15:30 Setelah berpamitan, Yudas dan Silas berangkat ke Antiokhia. Di situ mereka memanggil seluruh jemaat berkumpul, lalu menyerahkan surat itu kepada mereka. 15:31 Setelah membaca surat itu, jemaat bersukacita karena isinya yang menghiburkan. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 15:22–31: Kesatuan Gereja Dibangun dengan Kejelasan dan Kejujuran. Setelah melalui perdebatan dan pencarian bersama, para rasul dan penatua akhirnya mengambil keputusan yang jelas, lalu mengirim utusan untuk menyampaikannya kepada jemaat di Antiokhia. Mereka tidak membiarkan umat hidup dalam kebingungan atau mendengar kabar yang simpang siur. Bahkan mereka dengan jujur mengatakan bahwa ada orang-orang yang sebelumnya telah meresahkan jemaat tanpa mandat. Ini menunjukkan bahwa dalam hidup menggereja, kejelasan sangat penting. Kesatuan tidak lahir dari sikap diam atau menghindari masalah, tetapi dari keberanian untuk berbicara benar, menjelaskan dengan jernih, dan meluruskan yang keliru. Perikop ini mengajak kita untuk membangun komunikasi yang sehat dalam komunitas: tidak menyebarkan kabar yang belum jelas, tidak menambah-nambah cerita, tetapi berani menyampaikan kebenaran dengan cara yang membangun. Di situlah kepercayaan dan persatuan bertumbuh. Keputusan yang Lahir dari Roh Kudus Membawa Sukacita. Dalam surat itu tertulis kalimat yang sangat indah: “Adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami…” Ini menunjukkan bahwa keputusan tersebut bukan sekadar hasil kompromi manusia, tetapi buah dari keterbukaan terhadap tuntunan Roh Allah. Dan hasilnya nyata: ketika surat itu dibacakan, jemaat bersukacita karena penghiburan yang mereka terima. Keputusan yang benar, yang lahir dari Roh Kudus, tidak membebani, tetapi justru membawa damai dan sukacita. Perikop ini mengajak kita untuk bertanya dalam hidup sehari-hari: dalam mengambil keputusan—baik dalam keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan—apakah kita memberi ruang bagi Tuhan, atau hanya mengandalkan pikiran dan keinginan sendiri? Ketika kita belajar mendengarkan Tuhan, keputusan kita mungkin tidak selalu mudah, tetapi akan membawa kedamaian yang mendalam, bukan kegelisahan. Dan di situlah tanda bahwa Roh Kudus benar-benar bekerja dalam hidup kita. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
4 2026-05-09 Tuntunan Roh Kudus Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Sabtu, 8 Mei 2026. Tuntunan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 16:1-10). 16:1 Paulus datang juga ke Derbe dan ke Listra. Di situ ada seorang murid bernama Timotius ibunya adalah seorang Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani. 16:2 Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium, 16:3 dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu bahwa bapanya adalah orang Yunani.16:4 Dalam perjalanan keliling dari kota ke kota Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem dengan pesan, supaya jemaat-jemaat menurutinya. 16:5 Demikianlah jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan makin lama makin bertambah besar jumlahnya. 16:6 Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. 16:7 Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka. 16:8 Setelah melintasi Misia, mereka sampai di Troas. 16:9 Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan: ada seorang Makedonia berdiri di situ dan berseru kepadanya, katanya: Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami! 16:10 Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan itu kami menarik kesimpulan, bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 16:1–10: Kebebasan dalam Kristus Tidak Meniadakan Kebijaksanaan Pastoral. Paulus baru saja memperjuangkan bahwa keselamatan tidak tergantung pada hukum sunat. Namun dalam perikop ini, ia justru menyunat Timotius. Sekilas tampak bertentangan. Tetapi di sinilah letak kedalaman iman Paulus: ia tidak bertindak berdasarkan ego atau prinsip kaku, melainkan demi kebaikan pewartaan Injil. Sunat bukan lagi syarat keselamatan, tetapi menjadi langkah bijaksana agar pewartaan dapat diterima oleh orang-orang Yahudi di tempat itu. Ini menunjukkan bahwa hidup beriman tidak selalu hitam-putih. Ada saat kita perlu tegas dalam prinsip, tetapi ada juga saat kita perlu lentur dalam cara, demi kasih dan keselamatan orang lain. Perikop ini mengajak kita untuk belajar membedakan: mana yang prinsip iman yang tidak bisa ditawar, dan mana yang cara atau kebiasaan yang bisa disesuaikan. Tanpa kebijaksanaan ini, kita bisa menjadi keras dan justru menutup pintu bagi orang lain untuk mengenal Tuhan. Peka terhadap Tuntunan Roh Kudus di Tengah Rencana Manusia. Paulus dan rekan-rekannya memiliki rencana perjalanan yang jelas. Mereka ingin pergi ke daerah tertentu, tetapi Roh Kudus mencegah mereka. Mereka mencoba lagi ke tempat lain, tetapi tidak diizinkan. Hingga akhirnya, melalui penglihatan di malam hari, Paulus mendapat arah baru: pergi ke Makedonia. Ini menunjukkan bahwa dalam hidup iman, tidak semua rencana kita akan berjalan sesuai keinginan. Bahkan rencana yang baik pun bisa “ditutup jalannya” oleh Tuhan. Bukan karena salah, tetapi karena Tuhan punya rencana yang lebih besar. Perikop ini mengajak kita untuk peka dan rendah hati. Ketika jalan terasa tertutup, jangan langsung kecewa atau marah. Mungkin Tuhan sedang mengarahkan kita ke jalan lain yang lebih tepat. Iman bukan hanya soal membuat rencana, tetapi juga kesiapsediaan untuk diubah arah oleh Tuhan. Dan sering kali, di situlah kita menemukan panggilan yang sesungguhnya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
5 2026-05-10 Sering Tuhan Menyelamatkan Kita Melalui Kesulitan Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 10 Mei 2026. Sering Tuhan Menyelamatkan Kita Melalui Kesulitan (Kisah Para Rasul 8:5-8, 14-17). 8:5 Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. 8:6 Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu. 8:7 Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan. 8:8 Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu. 8:14 Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. 8:15 Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. 8:16 Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. 8:17 Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 8:5–8.14–17: Pertama, Injil Bertumbuh Justru di Tengah Luka dan Penolakan. Perikop ini terjadi setelah Gereja mengalami penganiayaan besar di Yerusalem. Banyak murid tercerai-berai karena ancaman dan ketakutan. Secara manusiawi, situasi itu tampak seperti kegagalan. Namun justru dari peristiwa itu Filipus pergi ke Samaria dan mewartakan Kristus di sana. Hasilnya mengejutkan: banyak orang bertobat, mengalami penyembuhan, dan “sangatlah besar sukacita dalam kota itu.” Di sini kita melihat satu paradoks rohani: Tuhan sering memakai keadaan yang menyakitkan untuk membuka jalan keselamatan yang lebih luas. Penganiayaan yang dimaksudkan untuk menghancurkan Gereja malah menjadi sarana tersebarnya Injil. Hal ini mengajarkan bahwa dalam hidup iman, Tuhan dapat bekerja melalui peristiwa yang tidak kita inginkan. Kadang kita baru bertumbuh setelah mengalami kehilangan, penolakan, atau kegagalan. Ada orang yang mulai sungguh berdoa justru setelah sakit. Ada keluarga yang menjadi lebih erat setelah melewati kesusahan bersama. Ada orang yang menemukan panggilannya justru setelah pintu yang lama tertutup. Perikop ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak selalu menyelamatkan kita dari kesulitan, tetapi sering menyelamatkan kita melalui kesulitan. Ketika hidup terasa berantakan, jangan buru-buru menganggap Tuhan tidak bekerja. Bisa jadi justru di situlah Tuhan sedang membuka “Samaria” baru dalam hidup kita — tempat baru di mana kasih karunia-Nya akan dinyatakan. Kedua, Iman Kristen Tidak Cukup Hanya “Menerima”, tetapi Juga Harus “Dipenuhi”. Orang-orang Samaria dalam bacaan ini sebenarnya sudah percaya kepada Yesus dan sudah dibaptis oleh Filipus. Namun para rasul di Yerusalem tetap datang untuk menumpangkan tangan atas mereka agar mereka menerima Roh Kudus. Ini menunjukkan bahwa hidup kristiani bukan hanya soal percaya secara lahiriah atau menjalankan ritual keagamaan. Ada kedalaman hidup rohani yang harus terus dibuka bagi karya Roh Kudus. Baptisan membuka pintu iman, tetapi Roh Kuduslah yang memberi daya hidup, keberanian, dan kedewasaan rohani. Sering orang merasa cukup karena sudah dibaptis, sudah ke gereja, atau sudah menjalankan tradisi agama. Tetapi iman bisa menjadi kering jika hati tidak sungguh terbuka pada Roh Kudus. Orang bisa rajin berdoa tetapi tetap mudah marah, sulit mengampuni, dan tidak punya damai. Sebaliknya, ketika Roh Kudus bekerja, perlahan hati diubah: orang menjadi lebih sabar, lebih lembut, lebih peka terhadap sesama. Perikop ini mengajak kita untuk bertanya: apakah iman kita hanya sebatas identitas, atau sungguh menjadi hidup yang digerakkan oleh Roh Kudus? Sebab tanda kehadiran Roh Kudus bukan pertama-tama hal luar biasa, melainkan perubahan hati yang nyata. Orang yang dipenuhi Roh Kudus bukan orang yang paling banyak bicara tentang Tuhan, tetapi orang yang hidupnya makin menyerupai Kristus. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
6 2026-05-11 Hati Yang Terbuka Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 11 Mei 2026. Hati Yang Terbuka (Kisah Para Rasul 16:11-15). 16:11 Lalu kami bertolak dari Troas dan langsung berlayar ke Samotrake, dan keesokan harinya tibalah kami di Neapolis 16:12 dari situ kami ke Filipi, kota pertama di bagian Makedonia ini, suatu kota perantauan orang Roma. Di kota itu kami tinggal beberapa hari. 16:13 Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ setelah duduk, kami berbicara kepada perempuan-perempuan yang ada berkumpul di situ. 16:14 Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. 16:15 Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku. Ia mendesak sampai kami menerimanya. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 16:11–15: Tuhan Sering Membuka Jalan Besar Melalui Pertemuan yang Tampak Sederhana. Setelah menerima penglihatan tentang panggilan ke Makedonia, Paulus menyeberang ke Filipi. Namun menariknya, ketika tiba di kota besar itu, tidak langsung terjadi pewartaan besar-besaran atau mukjizat yang menggemparkan. Paulus justru pergi ke tempat doa di tepi sungai dan berbicara kepada sekelompok kecil perempuan. Dari sudut pandang manusia, itu tampak kecil dan biasa saja. Tetapi justru di situlah Tuhan membuka hati Lydia, seorang penjual kain ungu, dan melalui dirinya Injil mulai berakar di Eropa. Perikop ini menunjukkan bahwa karya Tuhan sering dimulai bukan dari hal besar, melainkan dari kesetiaan pada perjumpaan-perjumpaan kecil. Kita kadang berpikir Tuhan bekerja hanya lewat peristiwa luar biasa, padahal sering kali Ia bekerja melalui percakapan sederhana, perhatian kecil, atau pertemuan yang tampaknya biasa. Ada kata yang menguatkan seseorang hingga tidak jadi menyerah. Ada kunjungan sederhana yang memulihkan harapan orang sakit. Ada doa ibu yang diam-diam mengubah jalan hidup anaknya. Dalam hidup iman, tidak ada perjumpaan yang terlalu kecil bagi Tuhan. Yang penting adalah kesiapsediaan hati untuk hadir dan taat. Sebab Tuhan dapat memakai satu pertemuan sederhana untuk memulai perubahan besar yang tidak pernah kita bayangkan. Hati yang Terbuka kepada Tuhan Selalu Berbuah dalam Keramahan dan Pelayanan. Tentang Lydia dikatakan: “Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan Paulus.” Menarik bahwa tanda pertama dari hati yang disentuh Tuhan bukan sekadar pengakuan iman dengan kata-kata, melainkan tindakan nyata: Lydia segera membuka rumahnya bagi Paulus dan teman-temannya. Ia tidak menyimpan rahmat itu untuk dirinya sendiri. Hatinya yang terbuka kepada Tuhan berubah menjadi rumah yang terbuka bagi sesama. Hal ini mengajarkan bahwa iman yang sejati selalu menghasilkan keramahtamahan, kepedulian, dan pelayanan. Orang yang sungguh mengalami Tuhan tidak akan hidup hanya untuk dirinya sendiri. Ia mulai belajar memberi ruang bagi orang lain: ruang untuk didengarkan, diterima, dan ditolong. Dalam kehidupan sehari-hari, rumah yang dipenuhi iman bukan pertama-tama rumah yang besar atau mewah, tetapi rumah yang menghadirkan damai. Ada keluarga yang sederhana, tetapi siapa pun yang datang merasa diterima dan dikuatkan. Sebaliknya, ada rumah yang megah tetapi penuh ketegangan dan egoisme. Perikop ini mengajak kita bertanya: apakah hati kita sungguh terbuka bagi Tuhan? Sebab hati yang benar-benar dibuka oleh Tuhan tidak akan menjadi hati yang tertutup bagi sesama. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
7 2026-05-12 Pujian di Tengah Luka Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Selasa, 12 Mei 2026. Pujian Di Tengah Luka (Kisah Para Rasul 16:22-34). 16:22 Juga orang banyak bangkit menentang mereka. Lalu pembesar-pembesar kota itu menyuruh mengoyakkan pakaian dari tubuh mereka dan mendera mereka. 16:23 Setelah mereka berkali-kali didera, mereka dilemparkan ke dalam penjara. Kepala penjara diperintahkan untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. 16:24 Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan mereka ke ruang penjara yang paling tengah dan membelenggu kaki mereka dalam pasungan yang kuat. 16:25 Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. 16:26 Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua. 16:27 Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri. 16:28 Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini! 16:29 Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas. 16:30 Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat? 16:31 Jawab mereka: Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu. 16:32 Lalu mereka memberitakan firman Tuhan kepadanya dan kepada semua orang yang ada di rumahnya. 16:33 Pada jam itu juga kepala penjara itu membawa mereka dan membasuh bilur mereka. Seketika itu juga ia dan keluarganya memberi diri dibaptis. 16:34 Lalu ia membawa mereka ke rumahnya dan menghidangkan makanan kepada mereka. Dan ia sangat bergembira, bahwa ia dan seisi rumahnya telah menjadi percaya kepada Allah. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 16:22–34: Pujian kepada Tuhan di Tengah Luka Memiliki Kekuatan yang Membebaskan. Paulus dan Silas mengalami perlakuan yang sangat tidak adil. Mereka dipukuli, dipermalukan di depan umum, lalu dimasukkan ke penjara paling dalam dengan kaki terbelenggu. Secara manusiawi, mereka punya banyak alasan untuk mengeluh, marah, atau merasa Tuhan meninggalkan mereka. Namun yang terjadi justru sebaliknya: di tengah malam mereka berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah. Menarik bahwa pujian itu lahir bukan setelah keadaan membaik, melainkan ketika luka masih terasa dan rantai masih membelenggu. Justru di saat itulah gempa terjadi dan pintu-pintu penjara terbuka. Perikop ini mengajarkan bahwa pujian yang lahir dari hati yang tetap percaya di tengah penderitaan memiliki daya pembebasan yang besar. Bukan berarti setiap masalah langsung hilang secara ajaib, tetapi hati yang memuji Tuhan tidak mudah diperbudak oleh keputusasaan. Banyak orang hanya bisa bersyukur ketika hidup berjalan baik. Tetapi iman yang dewasa belajar tetap berdoa bahkan ketika belum ada jawaban. Ada orang yang tetap setia datang Misa walau hidupnya penuh persoalan. Ada ibu yang tetap mendoakan keluarganya meski lelah dan tidak dihargai. Ada pribadi yang tetap memilih mengampuni walau hatinya terluka. Semua itu adalah bentuk nyanyian iman di tengah malam kehidupan. Sering, justru dari kesetiaan kecil itulah Tuhan mulai menggoyahkan “penjara-penjara” dalam hidup kita: ketakutan, kepahitan, rasa putus asa, dan dosa yang membelenggu hati. Keselamatan Kristen Tidak Berhenti pada Diri Sendiri, tetapi Mengubah Cara Kita Memperlakukan Orang Lain. Ketika pintu penjara terbuka, kepala penjara langsung panik dan hendak bunuh diri karena ia takut menerima hukuman. Tetapi Paulus berteriak: “Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!” Kalimat itu sangat mendalam. Paulus, yang sebelumnya diperlakukan dengan kasar dan dirantai, tidak memakai kesempatan itu untuk balas dendam atau melarikan diri. Ia justru menyelamatkan orang yang ikut menindasnya. Dari sini kepala penjara mengalami guncangan batin dan akhirnya bertanya: “Apakah yang harus aku perbuat supaya aku selamat?” Perikop ini menunjukkan bahwa kesaksian iman yang paling kuat sering kali bukan khotbah panjang, melainkan sikap kasih yang muncul pada saat yang sulit. Kepala penjara itu pertama-tama tidak disentuh oleh mukjizat gempa bumi, tetapi oleh belas kasih Paulus dan Silas. Dan setelah percaya kepada Kristus, perubahan langsung terlihat: ia membasuh luka mereka, menerima mereka di rumahnya, dan melayani mereka dengan sukacita. Artinya, keselamatan sejati selalu mengubah hati manusia menjadi lebih manusiawi. Orang yang sungguh mengalami Tuhan perlahan belajar berhenti menyakiti dan mulai merawat sesama. Dalam kehidupan sehari-hari, ada orang yang rajin berdoa tetapi masih mudah melukai dengan kata-kata kasar. Ada yang aktif dalam kegiatan rohani tetapi sulit mengampuni. Bacaan ini mengingatkan bahwa iman kepada Kristus harus tampak dalam cara kita memperlakukan orang lain. Sebab tanda bahwa Tuhan sungguh hadir dalam hati seseorang adalah ketika ia mulai membawa keselamatan, penghiburan, dan kasih bagi orang-orang di sekitarnya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
8 2026-05-13 Berdialog Tanpa Kehilangan Kebenaran Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Rabu, 13 Mei 2026. Berdialog Tanpa Kehilangan Kebenaran (Kisah Para Rasul 17:15,22-18:1). 17:15 Orang-orang yang mengiringi Paulus menemaninya sampai di Atena, lalu kembali dengan pesan kepada Silas dan Timotius, supaya mereka selekas mungkin datang kepadanya. 17:22 Paulus pergi berdiri di atas Areopagus dan berkata: Hai orang-orang Atena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. 17:23 Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. 17:24 Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, 17:25 dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang. 17:26 Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, 17:27 supaya mereka mencari Dia dan mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. 17:28 Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga. 17:29 Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia. 17:30 Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat. 17:31 Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati. 17:32 Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata: Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu. 17:33 Lalu Paulus pergi meninggalkan mereka. 17:34 Tetapi beberapa orang laki-laki menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 17:15.22 – 18:1: Iman yang Dewasa Mampu Berdialog dengan Dunia tanpa Kehilangan Kebenaran. Ketika Paulus tiba di Atena, ia melihat begitu banyak mezbah dan patung dewa. Ia sebenarnya bisa langsung marah atau menghukum orang-orang itu sebagai penyembah berhala. Tetapi Paulus memilih jalan yang berbeda. Ia mulai berbicara dari apa yang dikenal oleh mereka. Bahkan ia mengutip tulisan pujangga mereka sendiri dan memakai mezbah bertuliskan “Kepada Allah yang tidak dikenal” sebagai titik awal pewartaan Injil. Paulus tidak mengorbankan iman, tetapi ia juga tidak menutup diri terhadap budaya dan cara berpikir orang lain. Ia membangun jembatan agar orang dapat perlahan mengenal Kristus. Perikop ini mengajarkan bahwa pewartaan iman bukan pertama-tama soal memenangkan perdebatan, melainkan menghadirkan terang Tuhan dengan bijaksana dan penuh pengertian. Dalam hidup sehari-hari, kita sering berjumpa dengan orang yang berbeda pandangan, berbeda kebiasaan, bahkan berbeda iman. Kadang kita mudah menghakimi atau merasa diri paling benar sehingga akhirnya tidak ada dialog yang membangun. Paulus menunjukkan bahwa orang beriman dipanggil bukan untuk memusuhi dunia, tetapi untuk menghadirkan Tuhan di tengah dunia. Orang tua perlu belajar memahami cara berpikir anak-anak zaman sekarang sebelum menasihati mereka. Guru perlu memahami pergumulan murid sebelum mengoreksi. Gereja pun dipanggil untuk hadir mendengarkan luka dan memberikan harapa kepada manusia modern. Sebab hati manusia tidak dibuka oleh kemarahan, tetapi oleh kesaksian yang penuh hikmat dan kasih. Tidak Semua Orang Akan Menerima Pewartaan Tuhan, tetapi Kesetiaan Tetap Harus Dilanjutkan. Setelah Paulus berbicara di Areopagus tentang kebangkitan orang mati, reaksi orang-orang berbeda-beda. Ada yang mengejek, ada yang menunda dengan berkata “lain kali saja kami mendengarkan engkau”, tetapi ada juga yang akhirnya percaya, seperti Dionisius dan Damaris. Paulus mengalami kenyataan bahwa pewartaan Injil tidak selalu menghasilkan penerimaan besar atau keberhasilan yang langsung terlihat. Namun menariknya, setelah itu Paulus tidak berhenti atau tenggelam dalam kekecewaan. Ia melanjutkan perjalanan ke Korintus untuk terus mewartakan Injil. Perikop ini mengajarkan bahwa tugas orang beriman adalah setia menabur, bukan memaksa hasil. Kadang kita mudah patah semangat ketika kebaikan tidak dihargai atau nasihat tidak didengarkan. Ada orang tua yang sedih karena anak belum berubah meski sudah lama didoakan. Ada pelayan Gereja yang kecewa karena usahanya terasa sia-sia. Ada pribadi yang berusaha hidup benar tetapi malah diejek. Paulus mengingatkan bahwa tidak semua benih langsung bertumbuh pada hari yang sama. Ada hati yang menolak hari ini, tetapi mungkin terbuka di kemudian hari. Yang terpenting adalah tetap setia berjalan bersama Tuhan. Sebab keberhasilan di mata Tuhan bukan pertama-tama soal banyaknya hasil yang terlihat, melainkan kesetiaan untuk terus mewartakan kasih-Nya, bahkan ketika respons manusia tidak selalu seperti yang kita harapkan. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
9 2026-05-14 Kamu Akan Menjadi Saksi Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Kamis, 14 Mei 2026. Pesta Yesus Naik Ke Surga. Kamu Akan Menjadi Saksi (Kisah Para RAsul: 1:1-11). 1:1 Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, 1:2 sampai pada hari Ia terangkat. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya oleh Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya. 1:3 Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah. 1:4 Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang -- demikian kata-Nya -- telah kamu dengar dari pada-Ku. 1:5 Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. 1:6 Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel? 1:7 Jawab-Nya: Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. 1:8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi. 1:9 Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. 1:10 Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, 1:11 dan berkata kepada mereka: Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembaliv dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 1:1–11: Tuhan yang Naik ke Surga Tidak Meninggalkan Murid-Murid-Nya. Sebelum terangkat ke surga, Yesus tidak hanya memberi perintah, tetapi juga janji: para murid akan menerima kuasa Roh Kudus. Ini menunjukkan bahwa kenaikan Yesus bukan berarti Ia menjauh, melainkan membuka cara baru untuk tetap menyertai umat-Nya. Para murid memang tidak lagi melihat Yesus secara fisik, tetapi mereka akan dikuatkan oleh Roh-Nya untuk melanjutkan karya keselamatan. Dalam hidup sehari-hari, kita juga kadang merasa Tuhan jauh, terutama saat doa belum terjawab atau hidup terasa berat. Namun bacaan ini mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah sungguh meninggalkan kita. Ia tetap bekerja dan menyertai melalui Roh Kudus yang memberi kekuatan, penghiburan, dan harapan di tengah perjalanan hidup. Sering penyertaan Tuhan hadir bukan lewat mukjizat besar, tetapi melalui ketenangan hati, orang-orang yang menguatkan kita, atau kemampuan untuk tetap bertahan dalam masa sulit. Karena itu, kenaikan Tuhan ke surga bukan alasan untuk takut, melainkan undangan untuk semakin percaya bahwa hidup kita tetap berada dalam tangan-Nya. Menjadi Murid Kristus Berarti Siap Menjadi Saksi. Sebelum naik ke surga, Yesus berkata: “Kamu akan menjadi saksi-Ku.” Artinya, iman tidak boleh berhenti hanya untuk diri sendiri. Para murid dipanggil untuk membawa kabar sukacita sampai ke ujung bumi. Menariknya, ketika para murid masih menatap ke langit, malaikat mengingatkan mereka untuk kembali menjalani tugas perutusan. Ini mengajarkan bahwa iman bukan hanya soal memandang ke atas, tetapi juga tentang berjalan dan berkarya di dunia. Menjadi saksi Kristus dapat dimulai dari hal sederhana: berkata jujur, membawa damai dalam keluarga, mengampuni, dan tetap berbuat baik di tengah dunia yang keras. Sebab sering, orang lebih mudah melihat wajah Tuhan melalui hidup kita daripada melalui kata-kata kita. Kesaksian hidup yang sederhana namun tulus sering kali lebih menyentuh daripada nasihat yang panjang. Dunia saat ini membutuhkan orang-orang beriman yang bukan hanya pandai berbicara tentang Tuhan, tetapi juga menghadirkan kasih Tuhan dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
10 2026-05-15 Jangan Takut Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Jumat, 15 Mei 2026. Jangan Takut (Kisah Para Rasul 18:9-18). 18:9 Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! 18:10 Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini. 18:11 Maka tinggallah Paulus di situ selama satu tahun enam bulan dan ia mengajarkan firman Allah di tengah-tengah mereka. 18:12 Akan tetapi setelah Galio menjadi gubernur di Akhaya, bangkitlah orang-orang Yahudi bersama-sama melawan Paulus, lalu membawa dia ke depan pengadilan. 18:13 Kata mereka: Ia ini berusaha meyakinkan orang untuk beribadah kepada Allah dengan jalan yang bertentangan dengan hukum Taurat. 18:14 Ketika Paulus hendak mulai berbicara, berkatalah Galio kepada orang-orang Yahudi itu: Hai orang-orang Yahudi, jika sekiranya dakwaanmu mengenai suatu pelanggaran atau kejahatan, sudahlah sepatutnya aku menerima perkaramu, 18:15 tetapi kalau hal itu adalah perselisihan tentang perkataan atau nama atau hukum yang berlaku di antara kamu, maka hendaklah kamu sendiri mengurusnya aku tidak rela menjadi hakim atas perkara yang demikian. 18:16 Lalu ia mengusir mereka dari ruang pengadilan. 18:17 Maka orang itu semua menyerbu Sostenes, kepala rumah ibadat, lalu memukulinya di depan pengadilan itu tetapi Galio sama sekali tidak menghiraukan hal itu. 18:18 Paulus tinggal beberapa hari lagi di Korintus. Lalu ia minta diri kepada saudara-saudara di situ, dan berlayar ke Siria, sesudah ia mencukur rambutnya di Kengkrea, karena ia telah bernazar. Priskila dan Akwila menyertai dia. Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 18:9–18: Jangan Takut. Di tengah tantangan dan penolakan yang dialami Paulus, Tuhan datang melalui penglihatan dan berkata: “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam!” Kata-kata ini menunjukkan bahwa Tuhan mengetahui pergumulan batin Paulus. Meskipun Paulus adalah rasul besar, ia tetap manusia yang bisa merasa lelah, takut, dan sendirian. Namun Tuhan tidak membiarkannya berjalan sendiri. Tuhan juga memberi janji bahwa Ia menyertai Paulus dan memiliki banyak umat di kota itu. Dalam hidup sehari-hari, kita pun kadang merasa ingin menyerah ketika kebaikan tidak dihargai atau perjuangan terasa berat. Ada orang yang lelah mempertahankan kejujuran, ada orang tua yang hampir putus asa mendidik anak, atau pelayan Gereja yang merasa usahanya sia-sia. Bacaan ini mengingatkan bahwa Tuhan tahu batas kekuatan kita dan Ia tidak pernah terlambat memberi penguatan. Kadang Tuhan tidak langsung menghilangkan masalah, tetapi Ia memberi keberanian agar kita tetap melangkah dan tidak berhenti berbuat baik. Kesetiaan yang Membebaskan. Walaupun Paulus setia mewartakan Injil, ia tetap difitnah dan dibawa ke pengadilan. Namun menariknya, Tuhan bekerja dengan cara yang tidak terduga melalui keputusan Galio yang menolak campur tangan dalam perkara itu. Paulus akhirnya tetap terlindungi dan pewartaan Injil terus berjalan. Perikop ini menunjukkan bahwa penyertaan Tuhan tidak selalu berarti hidup bebas masalah, tetapi berarti Tuhan tetap memegang kendali bahkan di tengah situasi yang tampaknya kacau. Dalam kehidupan sehari-hari, kita kadang berpikir bahwa jika kita hidup baik, maka semuanya akan berjalan mudah. Padahal orang jujur tetap bisa disalahpahami, orang baik tetap bisa dikritik, dan orang beriman tetap bisa mengalami penderitaan. Namun Tuhan mampu membuka jalan bahkan melalui situasi yang tidak kita mengerti. Tugas kita bukan mengendalikan semua keadaan, melainkan tetap setia dan percaya bahwa Tuhan bekerja diam-diam untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang berharap kepada-Nya. Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr). Lihat Detail
Sekarang di halaman 44 dari 47