Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 10 Mei 2026. Sering Tuhan Menyelamatkan Kita Melalui Kesulitan (Kisah Para Rasul 8:5-8, 14-17). 8:5 Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ. 8:6 Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu. 8:7 Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan. 8:8 Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu. 8:14 Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar, bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. 8:15 Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. 8:16 Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorangpun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. 8:17 Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kisah Para Rasul 8:5–8.14–17:
Pertama : Pertama, Injil Bertumbuh Justru di Tengah Luka dan Penolakan. Perikop ini terjadi setelah Gereja mengalami penganiayaan besar di Yerusalem. Banyak murid tercerai-berai karena ancaman dan ketakutan. Secara manusiawi, situasi itu tampak seperti kegagalan. Namun justru dari peristiwa itu Filipus pergi ke Samaria dan mewartakan Kristus di sana. Hasilnya mengejutkan: banyak orang bertobat, mengalami penyembuhan, dan “sangatlah besar sukacita dalam kota itu.” Di sini kita melihat satu paradoks rohani: Tuhan sering memakai keadaan yang menyakitkan untuk membuka jalan keselamatan yang lebih luas. Penganiayaan yang dimaksudkan untuk menghancurkan Gereja malah menjadi sarana tersebarnya Injil. Hal ini mengajarkan bahwa dalam hidup iman, Tuhan dapat bekerja melalui peristiwa yang tidak kita inginkan. Kadang kita baru bertumbuh setelah mengalami kehilangan, penolakan, atau kegagalan. Ada orang yang mulai sungguh berdoa justru setelah sakit. Ada keluarga yang menjadi lebih erat setelah melewati kesusahan bersama. Ada orang yang menemukan panggilannya justru setelah pintu yang lama tertutup. Perikop ini mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak selalu menyelamatkan kita dari kesulitan, tetapi sering menyelamatkan kita melalui kesulitan. Ketika hidup terasa berantakan, jangan buru-buru menganggap Tuhan tidak bekerja. Bisa jadi justru di situlah Tuhan sedang membuka “Samaria” baru dalam hidup kita — tempat baru di mana kasih karunia-Nya akan dinyatakan.
Kedua : Kedua, Iman Kristen Tidak Cukup Hanya “Menerima”, tetapi Juga Harus “Dipenuhi”. Orang-orang Samaria dalam bacaan ini sebenarnya sudah percaya kepada Yesus dan sudah dibaptis oleh Filipus. Namun para rasul di Yerusalem tetap datang untuk menumpangkan tangan atas mereka agar mereka menerima Roh Kudus. Ini menunjukkan bahwa hidup kristiani bukan hanya soal percaya secara lahiriah atau menjalankan ritual keagamaan. Ada kedalaman hidup rohani yang harus terus dibuka bagi karya Roh Kudus. Baptisan membuka pintu iman, tetapi Roh Kuduslah yang memberi daya hidup, keberanian, dan kedewasaan rohani. Sering orang merasa cukup karena sudah dibaptis, sudah ke gereja, atau sudah menjalankan tradisi agama. Tetapi iman bisa menjadi kering jika hati tidak sungguh terbuka pada Roh Kudus. Orang bisa rajin berdoa tetapi tetap mudah marah, sulit mengampuni, dan tidak punya damai. Sebaliknya, ketika Roh Kudus bekerja, perlahan hati diubah: orang menjadi lebih sabar, lebih lembut, lebih peka terhadap sesama. Perikop ini mengajak kita untuk bertanya: apakah iman kita hanya sebatas identitas, atau sungguh menjadi hidup yang digerakkan oleh Roh Kudus? Sebab tanda kehadiran Roh Kudus bukan pertama-tama hal luar biasa, melainkan perubahan hati yang nyata. Orang yang dipenuhi Roh Kudus bukan orang yang paling banyak bicara tentang Tuhan, tetapi orang yang hidupnya makin menyerupai Kristus.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda