Senin Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Senin, 25 Mei 2026. Pesta Maria Bunda Gereja. Tuhan Mencari Manusia Karena Kasih (Kejadian 3:9-15,20). 3:9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: Di manakah engkau? 3:10 Ia menjawab: Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang sebab itu aku bersembunyi. 3:11 Firman-Nya: Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu? 3:12 Manusia itu menjawab: Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan. 3:13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: Apakah yang telah kauperbuat ini? Jawab perempuan itu: Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan. 3:14 Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. 3:15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya. 3:20 Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Kejadian 3:9–15.20 (Pesta Maria Bunda Gereja):
Pertama : Tuhan Tetap Mencari Manusia yang Jatuh dalam Dosa. Setelah Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, hal pertama yang dilakukan Tuhan bukanlah menghukum, melainkan mencari manusia: “Di manakah engkau?” Pertanyaan ini menunjukkan bahwa kasih Tuhan selalu lebih dahulu hadir bahkan ketika manusia menjauh dari-Nya. Dosa memang membuat manusia takut, bersembunyi, saling menyalahkan, dan kehilangan damai. Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan ular. Namun di tengah kehancuran relasi itu, Tuhan tidak meninggalkan manusia sendirian. Perikop ini memperlihatkan bahwa hati Tuhan selalu mencari, memanggil, dan membuka jalan pemulihan bagi manusia yang jatuh. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang merasa tidak pantas datang kepada Tuhan karena kesalahan, kegagalan, atau masa lalu yang buruk. Ada yang memilih menjauh dari doa, Gereja, atau kehidupan rohani karena merasa malu dan tidak layak. Tetapi bacaan ini mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah berhenti mencari anak-anak-Nya. Bahkan ketika manusia lari dari Tuhan, Tuhan tetap berjalan mendekat. Dalam terang pesta Maria Bunda Gereja, kita melihat bahwa Maria pun menjadi tanda kasih keibuan Tuhan yang terus merangkul manusia berdosa agar kembali kepada-Nya. Gereja dipanggil meneladan hati seorang ibu: bukan menghakimi terlebih dahulu, melainkan mencari, merangkul, dan menuntun orang kembali kepada kasih Tuhan.
Kedua : Dari Luka Dosa, Tuhan Menumbuhkan Harapan Keselamatan. Setelah kejatuhan manusia, situasi tampak gelap akibat dosa. Namun justru di tengah keadaan itu Tuhan menyampaikan janji keselamatan: keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular. Gereja melihat nubuat ini sebagai awal harapan akan kemenangan Kristus atas dosa dan kuasa kejahatan, serta Maria yang mengambil bagian dalam karya keselamatan itu. Artinya, dosa dan kegagalan manusia bukanlah akhir dari cerita. Tuhan mampu menghadirkan harapan bahkan dari luka terdalam manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, sering seseorang merasa hidupnya sudah terlalu rusak karena kesalahan masa lalu, relasi yang hancur, atau dosa yang terus berulang. Ada pula keluarga yang kehilangan damai, mengalami pertengkaran, atau merasa jauh dari Tuhan. Namun bacaan ini mengajarkan bahwa Tuhan sanggup menumbuhkan keselamatan justru dari situasi yang tampaknya paling gelap. Maria sebagai Bunda Gereja menjadi tanda bahwa Tuhan tetap mendampingi perjalanan umat-Nya dengan kasih seorang ibu yang tidak meninggalkan anak-anaknya dalam penderitaan. Melalui Gereja, Tuhan terus menawarkan pengharapan, pengampunan, dan kesempatan untuk memulai hidup yang baru.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda