Selamat pagi dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 07 Juni 2026. Pesta Tubuh dan Darah Kristus. Manna: Gambaran Ekaristi (Ulangan 8:2-3, 14b-16a). 8:2 Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. 8:3 Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, z bahwa manusia hidup bukan dari roti saja , tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN. 8:14 jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, 8:15 dan yang memimpin engkau melalui padang gurun u yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular v yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu w yang keras, 8:16 dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, x yang tidak dikenal y oleh nenek moyangmu, supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya z engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Ulangan 8:2-3,14b-16a, dalam terang Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus:
Pertama : Manna di Padang Gurun Menjadi Gambaran Ekaristi sebagai Makanan Perjalanan Umat Allah. Dalam bacaan ini, Musa mengingatkan bangsa Israel bahwa Tuhan memberi mereka manna ketika mereka lapar di padang gurun. Manna bukan sekadar makanan untuk mempertahankan hidup jasmani, tetapi tanda bahwa Tuhan sendiri memelihara umat-Nya sepanjang perjalanan menuju Tanah Terjanji. Dalam terang Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, manna ini menemukan kepenuhannya dalam Ekaristi. Jika manna menopang kehidupan bangsa Israel untuk sementara waktu, maka Tubuh dan Darah Kristus menjadi makanan rohani yang memberi kehidupan ilahi dan menuntun umat menuju kehidupan kekal. Setiap kali mengikuti Misa dan menyambut Komuni Kudus, kita sebenarnya sedang mengalami kembali pemeliharaan Tuhan yang tidak pernah berhenti. Hidup manusia juga merupakan sebuah perjalanan yang penuh tantangan, godaan, dan kelelahan rohani. Di tengah perjalanan itu, Kristus tidak membiarkan umat-Nya berjalan sendirian. Ia memberikan diri-Nya sendiri sebagai santapan, agar kita memiliki kekuatan untuk tetap setia dan tidak kehilangan arah. Ekaristi menjadi tanda bahwa Tuhan tidak hanya memberi berkat-Nya, tetapi memberikan diri-Nya sendiri kepada umat yang dikasihi-Nya.
Kedua : Ekaristi Mengajarkan Bahwa Hidup Bergantung pada Tuhan. Musa menegaskan bahwa Tuhan membiarkan Israel mengalami lapar agar mereka belajar bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Tuhan. Pesan ini mencapai makna yang lebih dalam dalam Ekaristi. Di hadapan rupa roti dan anggur yang sederhana, Gereja mengakui kehadiran nyata Kristus yang menjadi sumber kehidupan sejati. Dunia sering mengajarkan bahwa kebahagiaan bergantung pada kekayaan, prestasi, kekuasaan, atau berbagai pencapaian manusia. Namun Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus mengingatkan bahwa kebutuhan terdalam manusia tidak dapat dipuaskan oleh hal-hal tersebut. Hati manusia diciptakan untuk Allah, dan hanya Allah yang mampu mengenyangkannya. Ketika berlutut di hadapan Sakramen Mahakudus dan menyambut Tubuh Kristus, kita mengakui bahwa hidup ini bukan terutama ditopang oleh kemampuan kita sendiri, melainkan oleh kasih Tuhan yang terus menghidupi kita. Ekaristi menjadi sekolah kerendahan hati yang mengajarkan bahwa sebesar apa pun keberhasilan yang kita miliki, kita tetaplah umat yang membutuhkan Tuhan setiap hari. Sebagaimana Israel bergantung pada manna di padang gurun, demikian pula Gereja bergantung pada Kristus, Roti Hidup yang turun dari surga dan menjadi santapan bagi dunia.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda