Selamat pagi, selamt hari Minggu, selamat Pesta Tritunggal Mahakudus dan salam jumpa dalam Sari Firman: Memotivasi Diri hari ini, Minggu, 31 Mei 2026. Tuhan Penuh Belas Kasihan dan Setia (Keluaran 34:4-6,8-9). 34:4 Lalu Musa memahat dua loh batu sama dengan yang mula-mula bangunlah ia pagi-pagi dan naiklah ia ke atas gunung Sinai, seperti yang diperintahkan TUHAN kepadanya, dan membawa kedua loh batu itu di tangannya. 34:5 Turunlah TUHAN dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama TUHAN. 34:6 Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya. 34:8 Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah 34:9 serta berkata: Jika aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, ya Tuhan, berjalanlah kiranya Tuhan di tengah-tengah kami sekalipun bangsa ini suatu bangsa yang tegar tengkuk, tetapi ampunilah kesalahan dan dosa j kami ambillah kami menjadi milik-Mu.
Renungan : Dua pokok permenungan yang dapat diambil dari bacaan hari ini, Keluaran 34:4b–6.8–9:
Pertama : Tuhan adalah Allah yang Penuh Belaskasihan dan Setia. Ketika Tuhan menampakkan diri kepada Musa, Ia memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah yang penyayang, pengasih, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia. Peristiwa ini terjadi justru setelah bangsa Israel jatuh dalam dosa dengan menyembah anak lembu emas. Secara manusiawi, bangsa itu pantas menerima hukuman dan penolakan. Namun Tuhan menunjukkan bahwa kasih-Nya lebih besar daripada dosa manusia. Tuhan memang membenci dosa, tetapi Ia tidak berhenti mengasihi manusia yang jatuh. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang membawa rasa bersalah, kecewa terhadap diri sendiri, atau merasa tidak layak di hadapan Tuhan karena kelemahan dan kegagalannya. Ada pula yang takut datang kepada Tuhan karena merasa dosanya terlalu besar. Bacaan ini mengingatkan bahwa wajah pertama Tuhan adalah kasih dan belas kasihan. Tuhan tidak mencari alasan untuk menjauh dari manusia, melainkan selalu membuka kesempatan untuk pertobatan dan pemulihan. Semakin seseorang menyadari belas kasih Tuhan, semakin ia belajar untuk tidak mudah menghakimi dirinya sendiri maupun orang lain.
Kedua : Kehadiran Tuhan Membaharui Perjalanan Hidup Manusia. Setelah mendengar penyataan Tuhan, Musa segera sujud menyembah dan memohon agar Tuhan tetap berjalan bersama umat-Nya. Musa sadar bahwa tanpa kehadiran Tuhan, bangsa Israel tidak akan mampu melanjutkan perjalanan mereka. Bacaan ini menunjukkan bahwa manusia tidak cukup hanya mengandalkan kekuatan, kepandaian, atau rencananya sendiri. Hati manusia membutuhkan Tuhan sebagai penuntun hidup. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang berusaha menyelesaikan semuanya sendiri sampai akhirnya merasa lelah, cemas, dan kehilangan damai. Ketika hidup dipenuhi masalah, manusia sering lupa bahwa Tuhan ingin berjalan bersama dan memikul beban bersama umat-Nya. Kehadiran Tuhan tidak selalu menghilangkan kesulitan secara instan, tetapi memberi kekuatan, arah, dan pengharapan untuk terus melangkah. Seperti Musa yang memohon agar Tuhan tetap menyertai bangsanya, kita pun dipanggil untuk terus membuka hati bagi kehadiran Tuhan dalam perjalanan hidup sehari-hari. Hati yang dekat dengan Tuhan akan lebih mampu menghadapi tantangan hidup dengan tenang, rendah hati, dan penuh harapan.
Berkat : Salam, doa dan berkat Allah Tritunggal Mahakudus menyertaimu semua (Norbert Labu, Pr).
Kembali ke Beranda